★ 5,8JalanFilm
Di JalanFilm, tiap sutradara adalah sebuah jalan, dan tiap film adalah rumah di jalan itu. Dua belas sutradara dengan empat film atau lebih mendapat jalan besar atas namanya, dari Jalan Hanung Bramantyo sampai Jalan Fajar Nugros. Sutradara dengan dua atau tiga film berbagi dua gang, dan lima puluh dua sutradara yang hadir dengan satu film berjajar di empat jalan setapak. Seluruhnya 162 film Indonesia, dan tiap poster membawa tahun serta nama jalannya.
Peta jalan: sembilan belas ruas
Jl. HanungJalan Hanung Bramantyo 2005 sampai 2013
Lihat semua (6)
★ 5,8
★ 6,2
★ 5,9
★ 7,1
★ 7,7
★ 7,4Jl. HanungJalan Hanung Bramantyo 2016 sampai 2026
Lihat semua (7)
★ 7,7
★ 6,9
★ 7,1
★ 6,5
★ 6,1
★ 7,1Jl. AnggyJalan Anggy Umbara
Lihat semua (9)
★ 6,2
★ 5,9
★ 5,4
★ 6,8
★ 5,7
★ 5,7Jl. F. BustomiJalan Fajar Bustomi
Lihat semua (8)
★ 5,6
★ 7,5
★ 6,9
★ 6,2
★ 6,3
★ 6,3Jl. AnggaJalan Angga Dwimas Sasongko
Lihat semua (6)
★ 6,8
★ 6,3
★ 7,0
★ 6,2
★ 6,2
★ 7,0Jl. GunturJalan Guntur Soeharjanto
Lihat semua (6)
★ 6,8
★ 7,5
★ 6,5
★ 7,3
★ 6,0
★ 6,8Jl. RadityaJalan Raditya Dika
Lihat semua (6)Jl. MontyJalan Monty Tiwa
Lihat semua (6)Jl. OdyJalan Ody C. Harahap
Lihat semua (5)Jl. TimoJalan Timo Tjahjanto
Lihat semua (4)Jl. RiriJalan Riri Riza
Lihat semua (4)Jl. ErnestJalan Ernest Prakasa
Lihat semua (4)Jl. F. NugrosJalan Fajar Nugros
Lihat semua (4)Gang 3Gang tiga film
Lihat semua (15)Gang 2Gang dua film
Lihat semua (20)
★ 7,5
★ 6,8
★ 6,3
★ 8,1
★ 6,6
★ 7,3SetapakJalan setapak 1986 sampai 2014
Lihat semua (9)
★ 6,4
★ 7,3
★ 7,0
★ 7,7
★ 6,5
★ 6,9SetapakJalan setapak 2015 sampai 2018
Lihat semua (14)SetapakJalan setapak 2019 sampai 2021
Lihat semua (11)SetapakJalan setapak 2022 sampai 2026
Lihat semua (18)
★ 7,9
★ 6,1
★ 6,6
★ 6,2
★ 6,3
★ 7,9Panduan JalanFilm
JalanFilm: peta film Indonesia menurut sutradara
Tiap sutradara adalah sebuah jalan
Di JalanFilm, film Indonesia digambar sebagai peta kota. Tiap sutradara adalah sebuah jalan, dan tiap film adalah rumah di jalan itu. Sutradara yang paling banyak berkarya mendapat jalan besar atas namanya. Sutradara dengan dua atau tiga film berbagi gang. Dan sutradara yang hadir dengan satu film berjajar di jalan setapak.
Seluruhnya ada 162 film nasional, dari Nagabonar tahun 1986 sampai film-film berangka tahun 2026, karya tujuh puluh sembilan sutradara. Peta itu terbagi menjadi sembilan belas ruas. Cara menjelajahinya dijelaskan di Mulai di JalanFilm.
Tiap film punya halaman sendiri dengan poster, sinopsis berbahasa Indonesia, pemeran, sutradara, durasi, dan rating. Tombol Tonton sekarang membuka judul itu di JustWatch, tempat layanan resmi untuk negara Anda ditampilkan.
Mengapa sutradara
Pemeran tampil di poster, tetapi sutradaralah yang menentukan rasa sebuah film: di mana kamera diletakkan, kapan penonton diajak tertawa, kapan dibiarkan diam. Bila Anda menyukai satu film seorang sutradara, besar kemungkinan Anda menyukai filmnya yang lain.
Menyusun film menurut sutradara berarti mengikuti perjalanan seseorang. Dari film pertama yang sederhana sampai film besar yang ambisius, dari satu genre ke genre lain. Itulah arti kata jalan di nama panduan ini: jalan karier, yang bisa ditelusuri rumah demi rumah.
Gagasan lengkapnya ada di Peta jalan sutradara.
Cara membaca peta
Beranda dibuka dengan papan sembilan belas plang jalan. Tiga belas plang hijau adalah jalan besar milik dua belas sutradara; Hanung Bramantyo, yang filmnya terbanyak, mendapat dua ruas menurut masa. Dua plang biru adalah gang. Empat plang cokelat adalah jalan setapak, disusun menurut masa.
Tiap plang memuat nama jalan, rentang tahun, dan jumlah film. Tekan satu plang, dan halaman meluncur ke ruas itu. Enam film yang paling banyak dinilai tampil dalam urutan rilis, sehingga perjalanan sutradaranya terbaca dari kiri ke kanan.
Di sudut kiri bawah poster tertulis tahun, di sudut kanan bawah nama sutradaranya, dan di sudut kanan atas rating. Artinya dijelaskan di Plang di poster.
Bagaimana sebuah film mendapat jalannya
Tiap film ditempatkan menurut sutradara yang tercatat pertama. Beberapa film punya dua sutradara: empat film dunia Dilan, misalnya, disutradarai Fajar Bustomi bersama Pidi Baiq, penulis novelnya. Film-film itu berdiri di Jalan Fajar Bustomi, dan halaman film menyebut kedua nama.
Sutradara dengan empat film atau lebih mendapat jalan sendiri. Lima sutradara dengan tiga film berbagi Gang tiga film, dan sepuluh sutradara dengan dua film berbagi Gang dua film. Lima puluh dua sutradara yang hadir dengan satu film ditempatkan di jalan setapak menurut tahun rilis.
Dengan aturan itu tiap film punya tepat satu alamat, dan jumlah seluruh ruas selalu 162.
Peta dalam angka
Dua belas sutradara dengan jalan besar menggarap 75 film, hampir separuh katalog. Lima belas sutradara di dua gang menggarap 35 film. Lima puluh dua sutradara di jalan setapak menggarap 52 film.
Jalan terpanjang adalah Jalan Hanung Bramantyo dengan 13 film. Di belakangnya Jalan Anggy Umbara dengan 9 film dan Jalan Fajar Bustomi dengan 8 film. Rata-rata rating seluruh katalog 6,61, dan rata-rata durasinya 109 menit.
Jalan-jalan besar
Dua belas sutradara punya jalan atas namanya. Tujuh di antaranya, dengan enam film atau lebih, bisa disebut jalan raya; lima lainnya, dengan empat atau lima film, jalan lingkungan yang ramai. Panduan ringkasnya ada di Jalan-jalan besar.
Jalan Hanung Bramantyo 2005 sampai 2013
Enam film dari masa awal. Jalan ini bermula dari Catatan Akhir Sekolah pada 2005, kisah tiga sahabat yang membuat film tentang sekolahnya, lalu Get Married pada 2007, komedi yang sangat laris pada masanya.
Ayat-Ayat Cinta pada 2008 mengubah segalanya: film itu membuktikan bahwa kisah cinta religi sanggup memenuhi bioskop. Dua film Perahu Kertas pada 2012 mengangkat novel Dee Lestari, dan bagian kedua memimpin ruas dengan rating 7,7. Soekarno: Indonesia Merdeka pada 2013, 137 menit, menandai belokan menuju film sejarah.
Jalan Hanung Bramantyo 2016 sampai 2026
Tujuh film dari masa film besar. Rata-rata durasinya 134 menit, terpanjang di antara semua ruas. Rudy Habibie memimpin dengan 7,7. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta berjalan 148 menit, dan Bumi Manusia, dari novel Pramoedya Ananta Toer, 181 menit, film terpanjang di seluruh peta.
Jalan ini lalu berbelok ke arah yang beragam: Satria Dewa: Gatotkaca, film pahlawan dari dunia wayang, Catatan si Boy, dan Children of Heaven dari 2026, kisah kakak beradik dan sepasang sepatu. Tiga belas film dalam dua puluh satu tahun, dari sekolah sampai keraton: uraiannya ada di Panduan Jalan Hanung Bramantyo.
Jalan Anggy Umbara
Sembilan film dari 2014 sampai 2025. Jalan ini paling ramai di bagian tengahnya, tempat para komika berkumpul: Comic 8, dua bagian Casino Kings, dan dua bagian pertama Warkop DKI Reborn. Lima film itu dirilis hanya dalam empat tahun.
3 dari 2015 adalah laga berlatar Jakarta masa depan. Puncak jalan ini datang pada 2020: Sabar Ini Ujian, komedi tentang hari yang terus berulang, dengan rating 8,0 dan durasi 126 menit. Ruas terbaru adalah Setetes Embun Cinta Niyala dari 2025.
Jalan Fajar Bustomi
Delapan film dari 2014 sampai 2024, dan separuhnya adalah dunia Dilan. Dilan 1990 memimpin dengan 7,5, disusul Dilan 1991, Milea: Suara dari Dilan, dan Dilan 1983: Wo Ai Ni. Keempatnya digarap bersama Pidi Baiq.
Di luar Dilan, jalan ini tetap setia pada kisah cinta remaja: Mariposa dan My Sassy Girl, versi Indonesia dari komedi Korea. Kukejar Cinta ke Negeri Cina dari 2014 adalah rumah pertama di jalan ini.
Jalan Angga Dwimas Sasongko
Enam film dari 2015 sampai 2023. Jalan ini dimulai dengan secangkir kopi: Filosofi Kopi dan Filosofi Kopi 2: Ben & Jody, lalu berbelok tajam ke laga dengan Ben & Jody, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, dan 13 Bom di Jakarta, yang dengan 143 menit dan rating 7,0 memimpin ruas.
Surat dari Praha adalah satu-satunya kisah cinta di jalan ini. Tiga dari enam filmnya tercatat sebagai laga, perbandingan yang jarang untuk sutradara di luar spesialis laga.
Jalan Guntur Soeharjanto
Enam film, dan empat di antaranya membawa penonton ke luar negeri: 99 Cahaya di Langit Eropa, Assalamualaikum Beijing, Ayat-Ayat Cinta 2 di Edinburgh, dan Belok Kanan Barcelona. Jalan ini adalah jalan para perantau.
Assalamualaikum Beijing memimpin dengan 7,5, dan Belok Kanan Barcelona menyusul dengan 7,3. Ruas terbaru, Norma: Antara Mertua dan Menantu dari 2025, pulang ke tanah air dengan drama rumah tangga 134 menit.
Jalan Raditya Dika
Enam film dari 2014 sampai 2019, dengan rata-rata rating 7,13, tertinggi kedua di antara jalan besar. Jalan ini sangat seragam mutunya: kelima film teratasnya berada di antara 7,1 dan 7,4.
Marmut Merah Jambu adalah film pertama yang ia sutradarai. Koala Kumal memimpin dengan 7,4. Single dan Single: Part 2 adalah yang terpanjang, sekitar 128 menit. Hangout adalah belokan ke misteri jenaka, dan The Guys ke komedi kantor.
Jalan Monty Tiwa
Enam film dari 2014 sampai 2019, terbagi rata antara drama dan komedi. Sabtu Bersama Bapak memimpin dengan 7,5: seorang ayah meninggalkan rekaman video bagi anak-anaknya. Critical Eleven, 135 menit, digarap bersama Robert Ronny.
Di sisi komedi ada Mahasiswi Baru, Mau Jadi Apa?, dan Aku, Kau & KUA. Jalan ini adalah yang paling lebar rentang ratingnya, dari film yang sangat disayang sampai satu komedi yang dinilai paling rendah di peta.
Jalan Ody C. Harahap
Lima film dari 2009 sampai 2019, dan kelimanya berbeda jenis. Punk in Love adalah komedi jalanan tentang empat anak punk. Kapan Kawin? adalah komedi romantis. Sweet 20, juara ruas dengan 7,5, adalah komedi khayal tentang nenek yang kembali muda.
Orang Kaya Baru adalah komedi keluarga dengan rating 7,1, dan Hit & Run komedi laga. Jalan ini cocok bagi penonton yang menyukai sutradara serba bisa.
Jalan Timo Tjahjanto
Empat film, dan keempatnya laga keras untuk penonton dewasa. Rata-rata durasinya 131 menit. Headshot dari 2016 digarap bersama Kimo Stamboel. The Night Comes For Us dari 2018 dinilai oleh ratusan penonton dunia.
The Big 4 dari 2022 menambahkan humor, dan The Shadow Strays dari 2024 memimpin ruas dengan 7,3 dan durasi 145 menit. Jalan ini lurus dan konsisten: tiap film sedikit lebih besar daripada yang sebelumnya.
Jalan Riri Riza
Empat film dari 2008 sampai 2016, dengan rata-rata rating 6,88. Laskar Pelangi memimpin dengan 7,6 dan, bersama Sang Pemimpi, mengangkat novel Andrea Hirata tentang anak-anak Belitung.
Sokola Rimba berjalan 90 menit dan bercerita tentang seorang guru di hutan Jambi. Ada Apa Dengan Cinta? 2 menutup ruas dengan kepulangan Cinta dan Rangga. Jalan ini pendek, tetapi tiap rumahnya dikenang.
Jalan Ernest Prakasa
Empat film dengan rata-rata rating 7,25, tertinggi di antara semua jalan besar. Ngenest dari 2015, 91 menit, adalah film pertamanya sebagai sutradara. Cek Toko Sebelah menyusul dengan 7,5, dan Susah Sinyal memimpin dengan 7,7.
Setelah jeda panjang, ruas terbaru adalah Lupa Daratan dari 2025, tentang aktor besar yang mendadak kehilangan kemampuan berakting. Tiga dari empat film di jalan ini tercatat sebagai komedi, dan semuanya berakar pada keluarga.
Jalan Fajar Nugros
Empat film dari 2013 sampai 2023, dan jalan ini berbelok paling jauh. Dua film pertama, Cinta Brontosaurus dan Refrain, adalah komedi romantis dan kisah cinta remaja dari 2013.
Sepuluh tahun kemudian, Sleep Call adalah thriller muram tentang utang dan kesepian, dan memimpin ruas dengan 6,9. Di antaranya ada MeloDylan. Jalan ini memperlihatkan seorang sutradara yang berganti arah seiring waktu.
Gang dan jalan setapak
Di belakang jalan-jalan besar terbentang jaringan yang lebih kecil dan sering lebih menarik. Dua gang menampung 35 film dari lima belas sutradara, dan empat jalan setapak menampung 52 film dari 52 sutradara. Panduannya ada di Gang dan jalan setapak.
Gang tiga film
Lima belas film dari lima sutradara. Gareth Evans menyumbang tiga film yang mengubah laga dunia: Merantau, Serbuan Maut, dan The Raid 2: Berandal, yang terakhir dengan 7,6 dan 150 menit.
Garin Nugroho menyumbang Soegija, Aach... Aku Jatuh Cinta, dan Kucumbu Tubuh Indahku, tiga film dengan tiga nada. Upi menyumbang Realita, Cinta dan Rock'n Roll, Serigala Terakhir, dan My Stupid Boss.
Benni Setiawan menyumbang juara gang, Laskar Pelangi 2: Edensor dengan 7,8, serta Twivortiare dengan 7,6 dan Insya Allah Sah. Asep Kusdinar menyumbang tiga kisah cinta remaja, termasuk dua film London Love Story.
Gang dua film
Dua puluh film dari sepuluh sutradara, dengan rata-rata rating 7,0, lebih tinggi daripada jalan besar mana pun kecuali dua. Lima filmnya mencatat 7,5 atau lebih. Gang kecil ini adalah salah satu ruas terbaik di peta.
Deddy Mizwar menyumbang Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dengan 7,9 dan Nagabonar Jadi 2. Joko Anwar menyumbang Janji Joni, film panjang pertamanya, dan Pengepungan di Bukit Duri, dua puluh tahun kemudian. Rudi Soedjarwo menyumbang Ada Apa dengan Cinta? dan Sayap-Sayap Patah.
Sabrina Rochelle Kalangie menyumbang Home Sweet Loan dengan 8,1 dan Terlalu Tampan. Sunil Soraya menyumbang Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, 163 menit, dan Catatan Harian Menantu Sinting. Rano Karno menyumbang dua film Si Doel the Movie.
Archie Hekagery menyumbang Wedding Agreement dan Tarung Sarung, Lucky Kuswandi Galih & Ratna dan Ali & Ratu Ratu Queens, Razka Robby Ertanto Ave Maryam dan Jakarta vs Everybody, dan Robert Ronny dua film dari 2025, salah satunya berating 8,2.
Jalan setapak 1986 sampai 2014
Sembilan film dari sembilan sutradara. Nagabonar karya M.T. Risyaf, dari 1986, adalah rumah tertua di seluruh peta. Habibie & Ainun karya Faozan Rizal memimpin ruas dengan 7,7.
5 cm karya Rizal Mantovani, 125 menit, membawa lima sahabat ke Semeru. Heart karya Hanny R. Saputra mengenang cinta segitiga 2006. Pendekar Tongkat Emas karya Ifa Isfansyah dan The Mentalist mewakili laga. Rata-rata rating ruas ini 6,96.
Jalan setapak 2015 sampai 2018
Empat belas film. Juara ruas, dan film berating tertinggi di seluruh peta, adalah Dancing in the Rain karya Rudi Aryanto, dengan 8,4. Love for Sale karya Andibachtiar Yusuf menyusul dengan 7,9.
Komedi Moderen Gokil, Catatan Akhir Kuliah, dan Negeri van Oranje berdiri di tengah. Abdullah & Takeshi adalah film pertama Kemal Palevi sebagai sutradara. 3 Srikandi karya Iman Brotoseno, 121 menit, mengenang tiga pemanah Olimpiade. Ruas ini juga memuat beberapa film berating paling rendah, sebagaimana lazimnya jalan setapak: sebagian mengantar ke pemandangan indah, sebagian buntu.
Jalan setapak 2019 sampai 2021
Sebelas film. Dua filmnya mencatat 8,1 atau lebih: 27 Steps of May karya Ravi L. Bharwani dan Tersanjung: The Movie karya Pandhu Adjisurya. Dua Garis Biru, film pertama Gina S. Noer sebagai sutradara, mencatat 7,3, begitu pula A Perfect Fit karya Hadrah Daeng Ratu.
Bucin adalah film pertama Chandra Liow, dan Kukira Kau Rumah film pertama Umay Shahab. Preman Pensiun: The Movie dan Warkop DKI Reborn 3 meneruskan nama yang sudah dikenal dengan sutradara masing-masing.
Jalan setapak 2022 sampai 2026
Delapan belas film, ruas terbesar kedua di peta, dan bukti bahwa sutradara baru terus berdatangan. Lucid Love karya Tanzilal Azizie memimpin dengan 8,2. Ngeri-Ngeri Sedap karya Bene Dion Rajagukguk dan Surat untuk Masa Mudaku karya Sim F. sama-sama mencatat 7,9.
Para komika hadir sebagai sutradara: Pandji Pragiwaksono dengan Mendarat Darurat, Arie Kriting dengan Kaka Boss, dan Bayu Skak dengan film animasi FOUFO. Kabut Berduri karya Edwin dan 24 Jam Bersama Gaspar karya Yosep Anggi Noen mewakili sutradara yang besar di festival.
Pesta Babi karya Dandhy Laksono adalah satu-satunya film dokumenter di peta. Dopamin, Keluarga Super Irit, dan Cinta Subuh mencatat 7,1 atau lebih.
Jalan-jalan besar dibandingkan
Menurut rata-rata rating, Jalan Ernest Prakasa memimpin dengan 7,25, disusul Jalan Raditya Dika dengan 7,13. Lalu Jalan Riri Riza dengan 6,88, Jalan Timo Tjahjanto dengan 6,84, Jalan Guntur Soeharjanto dengan 6,82, dan Jalan Hanung Bramantyo dengan 6,81 untuk ketiga belas filmnya.
Jalan Ody C. Harahap mencatat 6,74, Jalan Angga Dwimas Sasongko 6,59, Jalan Fajar Bustomi 6,22, Jalan Anggy Umbara 6,06, Jalan Fajar Nugros 5,95, dan Jalan Monty Tiwa 5,75. Dua jalan terakhir ditarik turun oleh satu atau dua film berating sangat rendah.
Polanya menarik: dua jalan teratas dimiliki sutradara yang juga menulis dan membintangi filmnya sendiri. Ketika satu orang memegang cerita dari awal sampai akhir, hasilnya cenderung utuh.
Jalan panjang dan jalan pendek
Durasi film juga berbeda dari jalan ke jalan. Jalan Timo Tjahjanto rata-rata 131 menit, dan ruas kedua Jalan Hanung Bramantyo 134 menit. Laga besar dan film sejarah sama-sama meminta waktu.
Jalan Fajar Nugros adalah yang paling ringkas dengan 100 menit, lalu Jalan Ernest Prakasa dan Jalan Monty Tiwa dengan 105 menit. Komedi dan kisah cinta ringan jarang perlu lebih dari satu setengah jam lebih sedikit.
Film terpanjang di peta, Bumi Manusia, berdiri di Jalan Hanung Bramantyo. Film terpendek, Lucid Love, 71 menit, berdiri di jalan setapak termuda.
Jalan lurus dan jalan berbelok
Sebagian sutradara menempuh jalan lurus. Timo Tjahjanto membuat empat film laga berturut-turut. Raditya Dika tetap di komedi tentang cinta dan patah hati. Riri Riza tetap di drama yang tenang. Fajar Bustomi tetap di kisah cinta remaja.
Sebagian lain senang berbelok. Hanung Bramantyo berpindah dari komedi ke kisah cinta religi, lalu ke film sejarah, lalu ke pahlawan wayang. Angga Dwimas Sasongko berpindah dari kedai kopi ke ledakan bom. Fajar Nugros berpindah dari komedi romantis ke thriller. Ody C. Harahap berganti jenis di tiap film.
Kedua jenis jalan sama menariknya. Jalan lurus memberi kepastian: Anda tahu apa yang didapat. Jalan berbelok memberi kejutan: Anda melihat seorang sutradara mencoba hal baru, kadang berhasil gemilang, kadang tersandung.
Sutradara komedi
Komedi Indonesia masa kini banyak digerakkan sutradara yang datang dari panggung dan buku. Raditya Dika dan Ernest Prakasa adalah dua yang paling menonjol, dengan sepuluh film di dua jalan mereka dan rata-rata rating di atas tujuh.
Anggy Umbara membawa komedi ke arah laga dan tontonan besar, bersama para komika. Monty Tiwa dan Ody C. Harahap menggarap komedi keluarga dan komedi kampus. Di gang, Deddy Mizwar menyumbang komedi yang menyindir, dan Upi menyumbang My Stupid Boss.
Di jalan setapak, generasi baru bermunculan: Bene Dion Rajagukguk, Pandji Pragiwaksono, Arie Kriting, Kemal Palevi, Chandra Liow, dan Bayu Skak, hampir semuanya dikenal lebih dulu sebagai pelawak atau pembuat konten. Peta lengkapnya ada di Sutradara komedi.
Sutradara laga
Laga Indonesia modern bisa ditelusuri lewat tiga alamat. Pertama, Gang tiga film, tempat Gareth Evans menaruh Merantau, Serbuan Maut, dan The Raid 2: Berandal. Kedua, Jalan Timo Tjahjanto, dengan empat film dari 2016 sampai 2024.
Ketiga, Jalan Angga Dwimas Sasongko, dengan tiga film laga dari jenis berbeda: silat jenaka, laga hutan, dan thriller kontraterorisme. Di luar itu ada Joko Anwar dengan Pengepungan di Bukit Duri, Archie Hekagery dengan Tarung Sarung, dan Ifa Isfansyah dengan Pendekar Tongkat Emas.
Anggy Umbara menambahkan laga yang kocak lewat Comic 8, dan Hanung Bramantyo mencoba film pahlawan lewat Satria Dewa: Gatotkaca. Uraiannya ada di Sutradara laga.
Sutradara perempuan di peta
Delapan sutradara perempuan tercatat sebagai sutradara pertama di peta ini, dengan sebelas film. Upi punya tiga film di Gang tiga film, dari drama musik 2006 sampai komedi kantor 2016. Sabrina Rochelle Kalangie punya dua film di Gang dua film, termasuk Home Sweet Loan, salah satu film berating tertinggi di peta.
Enam lainnya berdiri di jalan setapak: Gina S. Noer dengan Dua Garis Biru, Hadrah Daeng Ratu dengan A Perfect Fit, Viva Westi dengan Toko Barang Mantan, Sammaria Simanjuntak dengan Guru-Guru Gokil, Key Mangunsong dengan Air Mata di Ujung Sajadah, dan Meira Anastasia dengan sebuah komedi romantis berlatar Seoul.
Rata-rata rating sebelas film itu setara dengan rata-rata katalog, dan sebagian besar bercerita tentang perempuan yang mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Daftarnya ada di Sutradara perempuan.
Film pertama para sutradara
Jalan setapak menyimpan banyak film pertama, dan film pertama punya pesona tersendiri: keberanian orang yang baru mencoba. Ngenest adalah film pertama Ernest Prakasa, dan Marmut Merah Jambu film pertama Raditya Dika sebagai sutradara. Keduanya kemudian tumbuh menjadi jalan besar.
Janji Joni adalah film panjang pertama Joko Anwar. Dua Garis Biru film pertama Gina S. Noer setelah bertahun-tahun menulis skenario. Mendarat Darurat film pertama Pandji Pragiwaksono, Kaka Boss film pertama Arie Kriting, dan Kukira Kau Rumah film pertama Umay Shahab.
Menonton film pertama, lalu film terbaru sutradara yang sama, adalah cara paling jelas melihat seseorang tumbuh. Daftar lengkapnya ada di Film pertama para sutradara.
Film yang digarap berdua
Sebagian film di peta ini punya dua sutradara. Yang paling dikenal adalah kerja sama Fajar Bustomi dan Pidi Baiq pada empat film Dilan: seorang sutradara berpengalaman berdampingan dengan penulis yang paling mengenal tokohnya.
Headshot digarap Timo Tjahjanto bersama Kimo Stamboel, pasangan yang lama bekerja dengan satu nama. Critical Eleven digarap Monty Tiwa bersama Robert Ronny, dan Mau Jadi Apa? bersama Soleh Solihun, yang kisah masa kuliahnya menjadi bahan film.
Tersanjung: The Movie digarap Pandhu Adjisurya bersama Hanung Bramantyo, dan Pesta Babi oleh Dandhy Laksono bersama seorang rekan. Di JalanFilm, film semacam itu berdiri di jalan sutradara yang tercatat pertama, dan halaman film menyebut semua nama.
Sutradara yang juga menulis dan bermain
Beberapa sutradara di peta ini memegang lebih dari satu peran. Raditya Dika menulis, menyutradarai, dan membintangi keenam film di jalannya. Ernest Prakasa melakukan hal serupa pada Ngenest, Cek Toko Sebelah, dan Susah Sinyal.
Deddy Mizwar menyutradarai dan membintangi Nagabonar Jadi 2, meneruskan tokoh yang ia perankan sejak 1986. Rano Karno menyutradarai dan membintangi dua film Si Doel, tokoh yang melekat padanya selama puluhan tahun.
Film-film semacam ini terasa pribadi. Cerita keluarga Tionghoa dalam film Ernest, patah hati dalam film Raditya, dan Betawi dalam film Rano Karno datang dari pengalaman sendiri, dan penonton merasakannya.
Sutradara dan buku
Banyak jalan di peta ini dibangun di atas buku. Riri Riza mengangkat dua novel Andrea Hirata. Hanung Bramantyo mengangkat novel Habiburrahman El Shirazy, Dee Lestari, dan Pramoedya Ananta Toer. Guntur Soeharjanto mengangkat kisah-kisah perjalanan dan novel religi.
Fajar Bustomi mengangkat novel Pidi Baiq. Monty Tiwa mengangkat novel Adhitya Mulya dan Ika Natassa. Raditya Dika mengangkat bukunya sendiri. Sunil Soraya mengangkat roman Hamka, dan Sabrina Rochelle Kalangie mengangkat novel Almira Bastari.
Bagi pembaca, mengikuti seorang sutradara berarti sekaligus mengikuti rak bukunya. Dan bagi yang lebih dulu menonton, film sering menjadi pintu menuju novelnya.
Peta dari masa ke masa
Bila plang-plang ini disusun menurut tahun, terlihat pergantian generasi. Pada dasawarsa pertama abad ini, peta dikuasai Rudi Soedjarwo, Riri Riza, Hanung Bramantyo muda, Upi, dan Deddy Mizwar.
Sejak 2013, jalan-jalan baru dibuka hampir tiap tahun: Guntur Soeharjanto dan Fajar Nugros pada 2013, Raditya Dika, Anggy Umbara, dan Fajar Bustomi pada 2014, Ernest Prakasa dan Angga Dwimas Sasongko pada 2015, Timo Tjahjanto pada 2016.
Sejak 2022, pertumbuhan paling pesat terjadi di jalan setapak: delapan belas film dari delapan belas sutradara dalam lima tahun. Beberapa di antara mereka kelak akan mendapat jalan besar sendiri, dan peta ini siap digambar ulang.
Rumah terbaik di tiap jalan
Bila tiap jalan besar memamerkan satu rumah, inilah barisannya. Jalan Hanung Bramantyo: Perahu Kertas 2 dan Rudy Habibie, keduanya 7,7. Jalan Anggy Umbara: Sabar Ini Ujian, 8,0. Jalan Fajar Bustomi: Dilan 1990, 7,5.
Jalan Angga Dwimas Sasongko: 13 Bom di Jakarta dan Filosofi Kopi 2: Ben & Jody, 7,0. Jalan Guntur Soeharjanto: Assalamualaikum Beijing, 7,5. Jalan Raditya Dika: Koala Kumal, 7,4. Jalan Monty Tiwa: Sabtu Bersama Bapak, 7,5.
Jalan Ody C. Harahap: Sweet 20, 7,5. Jalan Timo Tjahjanto: The Shadow Strays, 7,3. Jalan Riri Riza: Laskar Pelangi, 7,6. Jalan Ernest Prakasa: Susah Sinyal, 7,7. Jalan Fajar Nugros: Sleep Call, 6,9.
Dan dari ruas kecil: Laskar Pelangi 2: Edensor di Gang tiga film, Home Sweet Loan di Gang dua film, serta Dancing in the Rain dan Lucid Love di jalan setapak.
Tiga tur jalan kaki
Tur pertama, tur tawa: mulai dari Jalan Ernest Prakasa dengan Cek Toko Sebelah, belok ke Jalan Raditya Dika dengan Koala Kumal, dan akhiri di Jalan Ody C. Harahap dengan Sweet 20. Tiga malam, tiga sutradara komedi dengan gaya berbeda.
Tur kedua, tur sejarah: seluruhnya di Jalan Hanung Bramantyo. Soekarno: Indonesia Merdeka, lalu Rudy Habibie, lalu Bumi Manusia. Hampir delapan jam bila dijumlahkan, cocok untuk libur panjang.
Tur ketiga, tur degup: dari Gang tiga film dengan Serbuan Maut, ke Jalan Timo Tjahjanto dengan The Night Comes For Us, lalu ke Jalan Angga Dwimas Sasongko dengan 13 Bom di Jakarta. Tur ini khusus untuk penonton dewasa.
Menelusuri satu jalan dari ujung ke ujung
Cara paling memuaskan memakai JalanFilm adalah memilih satu jalan dan menelusurinya menurut tahun. Tiap ruas di beranda sudah menyusun posternya dari yang terlama ke yang terbaru, sehingga Anda tinggal mengikuti dari kiri ke kanan.
Di Jalan Riri Riza, misalnya, empat film dalam delapan tahun memperlihatkan seorang sutradara yang setia pada cerita anak-anak dan daerah, lalu kembali ke kisah cinta kota. Di Jalan Ernest Prakasa, tiga film dalam tiga tahun berturut-turut memperlihatkan kepercayaan diri yang tumbuh cepat.
Jalan dengan empat film bisa ditamatkan dalam sebulan, satu film tiap akhir pekan. Jalan Hanung Bramantyo, dengan tiga belas film, adalah proyek satu musim.
Pemeran yang sering melintas
Sutradara punya pemeran langganan, dan peta ini memperlihatkannya. Iko Uwais melintas di Gang tiga film bersama Gareth Evans, lalu di Jalan Timo Tjahjanto. Iqbaal Ramadhan berdiri di Jalan Fajar Bustomi sebagai Dilan, lalu di Jalan Hanung Bramantyo sebagai Minke dalam Bumi Manusia.
Reza Rahadian, pemeran yang paling sering muncul di katalog, melintas di banyak jalan, terutama Jalan Hanung Bramantyo dengan empat film, lalu gang dan beberapa jalan setapak. Chicco Jerikho dan Rio Dewanto adalah langganan Jalan Angga Dwimas Sasongko.
Ketik nama seorang pemeran di kotak pencarian, dan lihat plang di tiap poster hasilnya: Anda akan melihat dengan sutradara mana ia paling sering bekerja.
Jalan yang ramah keluarga
Untuk menonton bersama anak, Jalan Riri Riza adalah yang paling aman, dengan Laskar Pelangi dan Sokola Rimba. Jalan Ernest Prakasa cocok untuk keluarga dengan anak remaja. Di jalan setapak, Keluarga Super Irit, Stip & Pensil, dan film animasi FOUFO dibuat dengan penonton muda dalam pikiran.
Jalan Timo Tjahjanto dan tiga film Gareth Evans di gang ditujukan bagi penonton dewasa. Bacalah sinopsis di halaman film, dan periksa klasifikasi umur di layanan resmi sebelum menonton bersama anak.
Mencari film di JalanFilm
Papan sembilan belas plang di beranda cocok bagi Anda yang ingin menjelajah menurut sutradara. Kotak pencarian menerima judul, nama sutradara, dan nama pemeran. Daftar A–Z menyusun seluruh 162 film menurut abjad. Semuanya dijelaskan di halaman Pencarian.
Di ponsel, plang tersusun dua per baris dan poster tampil dua kolom, seperti diuraikan di JalanFilm di ponsel. Seluruh film berbahasa Indonesia, dan keterangan tentang teks terjemahan ada di Bahasa dan subtitle.
Tombol Daftar Saya menyimpan film pilihan Anda di peramban. Cara memakainya untuk menelusuri satu jalan ada di Panduan Daftar Saya.
Jenis film di tiap jalan
Genre yang tercatat memperjelas watak tiap jalan. Keenam film di ruas pertama Jalan Hanung Bramantyo tercatat sebagai drama, begitu pula keenam film Jalan Guntur Soeharjanto dan keempat film Jalan Riri Riza. Keempat film Jalan Timo Tjahjanto tercatat sebagai laga.
Jalan Anggy Umbara terbagi antara empat komedi, tiga laga, dan dua drama. Jalan Ernest Prakasa berisi tiga komedi dan satu drama. Jalan Ody C. Harahap adalah yang paling beragam: fantasi, komedi, laga, dan dua drama dalam lima film.
Di jalan setapak, keragaman memuncak. Ruas termuda saja memuat sepuluh genre utama berbeda, termasuk animasi dan dokumenter. Sutradara baru tampaknya paling berani mencoba jenis film yang jarang dibuat.
Tahun tersibuk di peta
Tahun 2019 adalah tahun paling ramai di peta, dengan sembilan belas film, disusul 2017 dengan tujuh belas dan 2016 dengan enam belas. Pada tahun-tahun itu, hampir semua jalan besar mendapat rumah baru.
Hanung Bramantyo merilis film di peta ini pada 2016, 2017, 2018, dan 2019 berturut-turut. Raditya Dika merilis dua film pada 2016 saja, Koala Kumal dan Hangout. Anggy Umbara merilis dua film pada 2015 dan dua lagi pada 2016.
Lalu datang 2020 dan 2021, ketika bioskop terhenti dan banyak jalan sepi. Sejak 2022, yang paling ramai dibangun adalah jalan setapak, tempat para sutradara baru memulai.
Sutradara yang kembali setelah lama pergi
Beberapa jalan punya jeda panjang di antara dua rumah. Joko Anwar hadir dengan Janji Joni pada 2005 dan Pengepungan di Bukit Duri pada 2025, berjarak dua puluh tahun di peta ini. Rudi Soedjarwo hadir dengan Ada Apa dengan Cinta? pada 2002 dan Sayap-Sayap Patah pada 2022.
Ernest Prakasa menunggu delapan tahun antara Susah Sinyal dan Lupa Daratan. Fajar Nugros menunggu enam tahun antara dua kisah remaja dan thrillernya. Ody C. Harahap menunggu enam tahun antara Punk in Love dan Kapan Kawin?.
Jeda semacam itu sering berarti perubahan. Film sesudah jeda hampir selalu berbeda nadanya dari film sebelumnya, dan membandingkan keduanya adalah kesenangan bagi penonton yang teliti.
Kota dan daerah di tiap jalan
Sutradara juga punya peta di dalam filmnya. Riri Riza membawa penonton ke Belitung, hutan Jambi, dan Yogyakarta. Guntur Soeharjanto ke Wina, Beijing, Edinburgh, dan Barcelona. Ernest Prakasa ke toko kelontong Jakarta dan ke Sumba.
Fajar Bustomi lekat dengan Bandung dasawarsa sembilan puluhan. Hanung Bramantyo menjelajah dari Kairo dalam Ayat-Ayat Cinta sampai Surabaya masa kolonial dalam Bumi Manusia dan Jerman dalam Rudy Habibie.
Di gang, Rano Karno setia pada kampung Betawi, dan Sunil Soraya membawa kamera ke tanah Minang dan ke tanah Batak. Menelusuri satu jalan sutradara, dengan demikian, sering berarti berkeliling Nusantara dan dunia.
Jalan besar atau jalan kecil?
Apakah sutradara dengan film terbanyak selalu yang terbaik? Angka di peta ini menjawab dengan hati-hati. Dua belas jalan besar mencatat rata-rata rating sekitar 6,5. Gang dua film mencatat 7,0, dan Gang tiga film 6,59. Jalan setapak mencatat 6,54.
Sembilan film berating 7,5 atau lebih berdiri di jalan setapak, delapan di dua gang, dan sepuluh di jalan besar. Mutu tersebar merata: film yang sangat dicintai bisa datang dari sutradara dengan tiga belas film maupun dari sutradara dengan satu film.
Yang membedakan adalah kepastian. Di jalan besar, Anda tahu watak sutradaranya dari film-film sebelumnya. Di jalan setapak, tiap film adalah perkenalan.
Plang di tiap poster
Tiap poster membawa dua keterangan kecil di tepi bawahnya. Di kiri, dengan latar merah, tahun rilis. Di kanan, dengan latar hijau seperti plang jalan, nama singkat sutradaranya: Hanung, Anggy, Raditya, Ernest, atau nama belakang sutradara lain.
Di sudut kanan atas tertulis rating, dan di bawah judul genre utama serta durasi. Dengan empat keterangan itu, sebuah poster menjawab pertanyaan paling penting: kapan, oleh siapa, seberapa disukai, dan berapa lama.
Penjelasan lengkap ada di Plang di poster.
Sutradara dan pemeran langganannya
Beberapa pasangan sutradara dan pemeran sudah menjadi ciri. Gareth Evans dan Iko Uwais menggarap tiga film bersama. Fajar Bustomi dan Iqbaal Ramadhan tiga film Dilan. Angga Dwimas Sasongko dan pasangan Chicco Jerikho serta Rio Dewanto tiga film dunia Filosofi Kopi.
Hanung Bramantyo dan Reza Rahadian bertemu di empat film. Ernest Prakasa hampir selalu mengajak rekan-rekan komikanya. Raditya Dika, tentu saja, selalu bermain dalam filmnya sendiri.
Pasangan semacam itu memberi rasa akrab. Penonton yang menyukai satu film mereka hampir pasti menemukan kenyamanan yang sama di film berikutnya.
Seri film dan jalannya
Seri film biasanya tinggal di satu jalan. Tiga film Comic 8 dan dua film pertama Warkop DKI Reborn berdiri di Jalan Anggy Umbara. Empat film Dilan di Jalan Fajar Bustomi. Tiga film dunia Filosofi Kopi di Jalan Angga Dwimas Sasongko. Dua film Single di Jalan Raditya Dika.
Beberapa seri berpindah jalan ketika sutradaranya berganti. Kisah Ikal dimulai di Jalan Riri Riza dan berlanjut di Gang tiga film bersama Benni Setiawan. Dua film Ayat-Ayat Cinta terbagi antara Jalan Hanung Bramantyo dan Jalan Guntur Soeharjanto.
Warkop DKI Reborn berpindah dari Jalan Anggy Umbara ke jalan setapak pada film ketiganya. Dan kisah Cinta serta Rangga dimulai di Gang dua film bersama Rudi Soedjarwo, lalu berlanjut di Jalan Riri Riza. Pergantian sutradara hampir selalu terasa di layar, dan peta ini memudahkan untuk membandingkannya.
Satu sutradara, satu akhir pekan
Cara santai memakai peta ini: tiap akhir pekan milik satu sutradara. Jumat malam film tertuanya, Sabtu film yang paling banyak dinilai, Minggu film berating tertinggi. Tiga film cukup untuk mengenali suara seorang pembuat film.
Untuk Jalan Riri Riza: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, lalu Sokola Rimba. Untuk Jalan Anggy Umbara: Comic 8, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, lalu Sabar Ini Ujian, dan lihat betapa jauhnya jarak antara film pertama dan terakhir.
Dua belas jalan besar berarti dua belas akhir pekan. Tambahkan dua gang dan empat jalan setapak, dan Anda punya rencana tontonan untuk satu musim penuh.
Dua sutradara, satu tema
Peta ini juga memudahkan membandingkan dua sutradara yang menggarap pokok serupa. Tentang sekolah dan masa remaja: Laskar Pelangi di Jalan Riri Riza dan Dilan 1990 di Jalan Fajar Bustomi, yang satu tentang cita-cita, yang lain tentang cinta pertama.
Tentang keluarga: Cek Toko Sebelah di Jalan Ernest Prakasa dan Sabtu Bersama Bapak di Jalan Monty Tiwa. Tentang perantau: Assalamualaikum Beijing di Jalan Guntur Soeharjanto dan Surat dari Praha di Jalan Angga Dwimas Sasongko.
Tentang tokoh bangsa: Rudy Habibie karya Hanung Bramantyo dan Habibie & Ainun karya Faozan Rizal, dua sutradara yang memotret orang yang sama pada dua masa hidupnya. Menonton pasangan seperti itu dalam satu akhir pekan adalah kuliah singkat tentang gaya.
Catatan tentang data
Nama sutradara di JalanFilm diambil dari data yang tercatat di TMDB untuk tiap film. Bila sebuah film punya lebih dari satu sutradara, nama yang tercatat pertama menentukan jalannya, dan halaman film menampilkan semuanya.
Jumlah film tiap sutradara di sini adalah jumlah di dalam katalog JalanFilm. Banyak sutradara punya lebih banyak film di luar katalog, termasuk film horor, yang sengaja ditempatkan di luar panduan ini. Karena itu nama gang dan jalan setapak menggambarkan kehadiran di peta ini, sedangkan panjang karier seseorang yang sebenarnya bisa jauh lebih besar.
Rating adalah rata-rata penilaian penonton dan terus bergerak. Angka di halaman ini adalah potret pada saat katalog disusun.
Rumah pertama di tiap jalan besar
Tiap jalan besar punya rumah pertama, dan rumah itu sering paling menarik. Di Jalan Hanung Bramantyo: Catatan Akhir Sekolah dari 2005. Di Jalan Riri Riza: Laskar Pelangi dari 2008. Di Jalan Ody C. Harahap: Punk in Love dari 2009.
Di Jalan Guntur Soeharjanto: 99 Cahaya di Langit Eropa dari 2013. Di Jalan Fajar Nugros: dua film dari 2013. Di Jalan Raditya Dika: Marmut Merah Jambu dari 2014. Di Jalan Anggy Umbara: Comic 8 dari 2014. Di Jalan Monty Tiwa: Aku, Kau & KUA dari 2014.
Di Jalan Ernest Prakasa: Ngenest dari 2015. Di Jalan Angga Dwimas Sasongko: Filosofi Kopi dari 2015. Dan di Jalan Timo Tjahjanto: Headshot dari 2016. Rumah pertama di peta ini kadang berbeda dari film pertama sang sutradara, tetapi selalu menjadi pintu masuk yang baik ke jalannya.
Rumah terbaru di peta
Peta ini terus bertambah di ujung-ujungnya. Rumah terbaru di Jalan Hanung Bramantyo adalah Children of Heaven dari 2026. Di Jalan Anggy Umbara, Setetes Embun Cinta Niyala dari 2025. Di Jalan Ernest Prakasa, Lupa Daratan dari 2025. Di Jalan Guntur Soeharjanto, Norma: Antara Mertua dan Menantu dari 2025.
Di jalan setapak termuda berdiri empat film berangka tahun 2026: Surat untuk Masa Mudaku, Pesta Babi, FOUFO, dan Pelangi di Mars. Di Gang dua film, Joko Anwar dan Robert Ronny menambahkan tiga rumah pada 2025.
Bagi pengunjung yang ingin tahu arah film Indonesia hari ini, ujung-ujung jalan itulah tempat melihatnya.
Bila Anda suka film ini, cobalah jalan itu
Bila Anda menyukai Cek Toko Sebelah, telusuri seluruh Jalan Ernest Prakasa, lalu mampir ke jalan setapak untuk Ngeri-Ngeri Sedap, yang lahir dari lingkaran komika yang sama. Bila Anda menyukai Dilan 1990, Jalan Fajar Bustomi menyimpan tujuh film lagi dengan rasa serupa.
Bila Anda menyukai Serbuan Maut, lanjutkan ke Jalan Timo Tjahjanto. Bila Anda menyukai Laskar Pelangi, lanjutkan ke Sokola Rimba di jalan yang sama, lalu ke Laskar Pelangi 2: Edensor di Gang tiga film.
Bila Anda menyukai Habibie & Ainun, ruas kedua Jalan Hanung Bramantyo menawarkan Rudy Habibie dan film sejarah lain. Dan bila Anda menyukai Home Sweet Loan, cobalah Terlalu Tampan, film lain dari sutradara yang sama, dengan nada yang sangat berbeda.
Jalan kecil yang dikenal di festival
Beberapa sutradara di gang dan jalan setapak lebih dikenal di festival film daripada di papan bioskop. Garin Nugroho, dengan tiga film di gang, adalah salah satu nama paling dihormati dalam perfilman Indonesia. Kucumbu Tubuh Indahku karyanya berkeliling banyak festival dunia.
Edwin, sutradara Kabut Berduri, dan Yosep Anggi Noen, sutradara 24 Jam Bersama Gaspar, datang dari tradisi yang sama. Razka Robby Ertanto menyumbang Ave Maryam, dan Ravi L. Bharwani 27 Steps of May.
Film-film mereka sering lebih tenang dan lebih berani daripada film arus utama, dan biasanya ditujukan bagi penonton dewasa. Bagi pengunjung yang ingin melihat sisi lain film Indonesia, gang dan jalan setapak adalah tempat mencarinya.
Ketika sutradara berganti jenis
Salah satu kesenangan menelusuri sebuah jalan adalah menemukan belokan. Anggy Umbara, yang dikenal lewat komedi laga yang riuh, membuat Sabar Ini Ujian, komedi yang hangat dan rapi, dan justru itulah filmnya yang dinilai paling tinggi.
Raditya Dika keluar sejenak dari komedi cinta untuk membuat Hangout, sebuah misteri. Angga Dwimas Sasongko berpindah dari drama kedai kopi ke thriller berskala besar. Joko Anwar, yang memulai dengan komedi petualangan Janji Joni, kembali ke peta ini dengan laga yang keras.
Belokan seperti itu menunjukkan bahwa jalan seorang sutradara jarang benar-benar lurus. Peta ini mencatatnya dengan sederhana: tahun di kiri poster, dan genre di bawah judul.
Tentang nama-nama jalan
Di kota sungguhan, nama jalan diberikan untuk mengenang orang yang berjasa. Di JalanFilm, nama jalan diberikan kepada orang yang masih berkarya, dan itu membuat peta ini hidup: tiap film baru menambah satu rumah, dan tiap sutradara baru membuka satu jalan setapak.
Plang hijau di beranda memakai nama panggilan agar muat dan mudah diingat: Jl. Hanung, Jl. Anggy, Jl. Raditya, Jl. Ernest. Dua sutradara bernama depan sama dibedakan dengan nama belakangnya, yaitu Jl. F. Bustomi dan Jl. F. Nugros.
Nama lengkap tiap sutradara tertulis di judul ruas dan di halaman tiap film. Dari sana, satu ketukan di kotak pencarian sudah cukup untuk mengumpulkan seluruh rumah di jalannya.
Kebiasaan kecil penjelajah peta
Penonton yang rajin memakai peta ini biasanya mengembangkan satu kebiasaan: sebelum menonton film Indonesia apa pun, mereka melihat nama sutradaranya lebih dulu. Lambat laun nama-nama itu menjadi akrab seperti nama jalan di kota sendiri.
Sesudah itu, memilih film menjadi lebih mudah. Kabar tentang film baru cukup dibaca sampai nama sutradaranya, dan Anda sudah bisa menebak rasanya: hangat seperti jalan Ernest, jenaka seperti jalan Raditya, megah seperti jalan Hanung, atau keras seperti jalan Timo.
Kebiasaan itu juga membuat penonton lebih sabar kepada sutradara baru. Jalan setapak hari ini bisa menjadi jalan besar lima tahun lagi, dan menyenangkan rasanya bisa berkata bahwa Anda sudah berjalan di sana sejak rumah pertamanya berdiri.
Satu saran terakhir bagi penjelajah baru: buatlah peta kecil Anda sendiri. Catat tiga sutradara yang filmnya paling sering Anda sukai, lalu periksa di papan plang apakah masih ada rumah di jalan mereka yang terlewat. Hampir selalu ada, dan rumah yang terlewat itu sering menjadi kejutan paling menyenangkan, karena Anda datang dengan rasa percaya yang sudah terbangun dan pulang dengan satu judul baru untuk direkomendasikan kepada orang lain.
Lima langkah untuk kunjungan pertama
Langkah pertama: lihat papan plang dan pilih satu jalan. Langkah kedua: tekan plangnya. Langkah ketiga: ikuti poster dari kiri ke kanan menurut tahun, dan baca rating di sudutnya.
Langkah keempat: buka halaman film, baca sinopsis, dan lihat pemerannya. Langkah kelima: pilih negara Anda dan tekan Tonton sekarang untuk melihat layanan resmi yang menayangkannya. Uraiannya ada di Mulai di JalanFilm.
Yang dijaga JalanFilm
Seluruh film di sini adalah film Indonesia. Tiap film berdiri di tepat satu ruas, menurut sutradara yang tercatat pertama. Angka di halaman ini dihitung dari katalog itu sendiri.
Sinopsis ditulis dalam bahasa Indonesia. Rating ditampilkan apa adanya. Tombol Tonton sekarang selalu mengarah ke halaman pencarian layanan resmi.
Pertanyaan yang sering diajukan
Jawaban singkat untuk pertanyaan yang paling sering datang ada di bawah ini. Versi panjangnya ada di halaman Tanya jawab.
Pilih satu jalan dan mulailah berjalan
Kota yang baik dikenali dengan berjalan kaki, dan film Indonesia dikenali dengan mengikuti para pembuatnya. Ada jalan lebar yang ramai, ada gang yang teduh, dan ada jalan setapak yang baru dirintis.
Pilih satu plang malam ini. Masuklah ke rumah pertama, dan lihat ke mana jalan itu membawa Anda. Selamat berjalan, dan selamat menonton.
Pertanyaan
Apa itu JalanFilm?
JalanFilm adalah panduan film berbahasa Indonesia yang menyusun 162 film nasional menurut sutradaranya, seperti peta kota dengan sembilan belas ruas jalan.
Apa arti jalan besar, gang, dan jalan setapak?
Jalan besar adalah sutradara dengan empat film atau lebih. Gang menampung sutradara dengan dua atau tiga film. Jalan setapak menampung sutradara yang hadir dengan satu film.
Di mana saya bisa menonton filmnya?
Buka halaman film, pilih negara Anda di bagian Tempat menonton, lalu tekan Tonton sekarang. Halaman judul itu terbuka di JustWatch dengan daftar layanan resmi yang menyediakannya.
Sutradara mana yang filmnya paling banyak?
Hanung Bramantyo dengan 13 film, disusul Anggy Umbara dengan 9 film dan Fajar Bustomi dengan 8 film.
Jalan mana yang ratingnya paling tinggi?
Jalan Ernest Prakasa dengan rata-rata 7,25, disusul Jalan Raditya Dika dengan 7,13.
Bagaimana film dengan dua sutradara ditempatkan?
Menurut sutradara yang tercatat pertama. Halaman film menyebut semua sutradaranya.
Berapa sutradara yang ada di peta?
Tujuh puluh sembilan sutradara: dua belas di jalan besar, lima belas di dua gang, dan lima puluh dua di jalan setapak.
Film mana yang ratingnya paling tinggi?
Dancing in the Rain karya Rudi Aryanto, di jalan setapak 2015 sampai 2018, dengan 8,4.
Apakah ada jalan untuk keluarga?
Jalan Riri Riza dan Jalan Ernest Prakasa adalah yang paling ramah keluarga, bersama beberapa film di jalan setapak.
Bagaimana cara menyimpan film?
Tekan tombol Daftar Saya di halaman film. Daftar tersimpan di peramban Anda dan bisa dibuka kapan saja dari menu atas.
★ 7,1
★ 7,1
★ 7,4
★ 7,2
★ 6,7
★ 7,3
★ 5,5
★ 7,5
★ 6,9
★ 5,6
★ 2,7
★ 6,3
★ 6,3
★ 6,6
★ 7,5
★ 7,1
★ 6,2
★ 6,4
★ 6,9
★ 6,8
★ 7,3
★ 7,6
★ 6,6
★ 6,9
★ 6,4
★ 7,2
★ 7,5
★ 7,7
★ 6,6
★ 6,2
★ 5,4
★ 5,3
★ 6,9
★ 6,1
★ 6,5
★ 7,4
★ 7,6
★ 7,0
★ 6,5
★ 6,6
★ 3,7
★ 2,7
★ 5,6
★ 7,9
★ 8,4
★ 6,4
★ 8,1
★ 7,3
★ 5,3
★ 6,0
★ 7,3